Oleh: kangmaswiwit | Maret 8, 2007

Orang-orang yang Romantis

Sungguh, seorang Romeo tak perlu mati untuk Juliet.
Dan Qais tak perlu menjadi gila karena Laila. Romeo
masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Dan Qais
pun bisa tetap waras dan hidup tanpa Laila.

Tetapi itulah masalahnya. Mereka tidak sanggup, mereka
berhenti di satu titik, dan menyerah. Hidup Romeo tak
berarti tanpa Juliet, dan Qais memilih mati daripada
kehilangan Laila. Qais memang tidak bunuh diri, tetapi
ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, larut
dalam keterpurukan. Ia lepaskan dirinya tenggalam
dalam duka sampai nafas terakhir.

Mereka adalah orang-orang romantis. Dan orang–orang
romantis seringkali menjadi rapuh. Mereka punya jiwa
yang lembut dan halus. Tetapi kehalusan itu terbiaskan
dengan kelemahan. Qais dan Romeo mewakili tipikal
laki-laki yang berperasaan halus, tetapi sangat lemah.

Sungguh, kata Anis Matta itu bukan kombinasi yang
bagus. Sebab, bagaimana mungkin seorang laki-laki yang
lemah bisa berdiri kokoh dalam barisan kaum muslimin
untuk menegakkan kejayaan Islam. Bagaimana mungkin ia
bisa ‘memanggul senjata’, menebas keburukan dan
kebathilan, apalagi kedzaliman, sedangkan ia sendiri
tak sanggup menghadapi badai kehidupan, yang muaranya
hanya satu: hubbuddunya (cinta dunia). Cinta pada
keluarga (anak dan istri/suami) , cinta pada harta, dan
cinta pada kehormatan diri.

Pun sebaliknya dengan wanita. Bagaimana mungkin para
lelakinya bisa tenang dalam ‘peperangan’ jika para
wanitanya senantiasa merengek, menuntut, dan merajuk
agar setiap saat selalu ditemani.

Dalam dada orang-orang yang romantis, perpisahan
adalah saat-saat paling melankolik, saat-saat paling
ditakuti. Sebab dunia menjadi sempit *gimana ga
sempit, wong dunia segitu lebarnya serasa cuma buat
berdua :-P*. yang diinginkan orang-orang yang romantis
adalah ketenangan, kedamaian, bersama para kekasihnya.

Tetapi kehidupan tak seperti itu. Kehidupan selalu
punya aturan dan kaidah yang seringkali memaksa
orang-orang yang romantis itu berlepas diri dari
kekasihnya.

Sedihnya, keadaan seperti itulah yang melanda sebagian
besar muslimin di hari-hari sekarang. Memilih bergumul
dengan romantismenya yang rapuh. Berlindung di balik
kehalusan dan kelembutan jiwa. Tetapi sebenarnya hanya
menutupi kelemahan dan kerapuhan dirinya. Hingga
panggilan2 Allah untuk mengangkat ‘pedang’ memerangi
kebathilan yang buahnya adalah surga dan bidadari yang
bermata jeli, tak lagi terdengar indah.

Tengoklah sebuah kisah. Saat kabar syahidnya syekh
Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, sang
istri mujahid itu hanya menjawab enteng,
“Alhamdulillah, sekarang mungkin ia sedang
bersenanng-senang dengan para bidadari.”

Ungkapan itu bukan karena tak ada romantisme dan
kecintaan dalam dadanya. Tetapi karena segala
keindahan itu telah menemukan keterarahan dan sumber
energi dari Sang Pemilik Hati.

Gampang?? No!
That’s so hard! But not impossible.

____________ _________ ____
* Content copyright: Tarbawi
* Content Copyleft: izti


Responses

  1. makanya,ga usah cari pasangan, hari gene ngomongin cintaa???.. *mode ga penting

  2. jangan ngomong romantis2an dulu Wit,
    emang siapa yang mau romantis2an sama kamu?
    lha wong, kalo kamunya sendiri masih single.

    btw, good writing🙂

  3. 🙂 napa sich. rese amat.. :))

  4. keren..aku kopi ke blogku yaa…?
    http://www.mrfajarsyah.blogspot.com

  5. waduh, tulisanku pindah ke sini😛

  6. heheh, ketinggalan, nih sumbernya:
    http://izti79.blogs.friendster.com/iztiqoma/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: