Oleh: kangmaswiwit | Maret 1, 2007

Sebuah Jalan yang Ditempuh Cinta

(ambil dari buletin friendster seorang kawan)

Apa jadinya ketika sepasang suami istri
berbudi menjodohkan masing masing
sahabat mereka yang belum pernah saling
mengenal, memiliki karakter berlawanan
serta kultur yang begitu berbeda?

“Mereka akan menjadi pasangan yang
hebat!” kata sang istri, sambil
mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.

“Sangat menarik dan akan saling
melengkapi!” tutur si Suami sambil
dengan semangat menceritakan tentang
Jaka yang salih, sahabatnya.

“Jika Allah mengizinkan, mereka akan
jadi pasangan yang cocok!”

Gadis dan Jaka sama sama kuliah di UI,
namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama
aktif dalam kegiatan Kerohanian Islam.
Dua kali pasangan suami-istri, sahabat
mereka itu mencoba mempertemukan Jaka
dan Gadis dalam satu forum. Namun saat
Jaka datang, Gadis tiba-tiba
berhalangan. Ketika Gadis datang, Jaka
yang tidak bisa. Akhirnya sepasang suami
istri tersebut mencoba mengatur
pertemuan ketiga sambil memberikan data
“orang” yang ingin mereka perkenalkan
masing-masing pada Jaka dan Gadis secara
sendiri-sendiri.

Di kamar kostnya Gadis melihat data-data
si Jaka dan fotonya. Ini yang mau
diperkenalkan itu… dan diharap oleh
sahabatku bisa menjadi pasangan abadi
diriku? Priyayi Solo? Bagaimana cara
berbicara yang dianggap santun oleh
orang Solo? Gadis geleng-geleng kepala.
Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia
kabur melihat gaya bicaraku…

Dalam kamar kos yang lain, di seberang
Gang Kober, Jaka tertegun. Sudah sering
aku mendengar kiprah gadis itu di kampus
dan majalah. Tapi apa tidak salah? Si
kelahiran medan ini punya penyakit
begitu banyak? Jantung, pernah gegar
otak, paru-paru, kelenjar getah bening?
Waduh, bagaimana jika “si penyakitan”
ini jadi istriku? Tapi prestasinya
lumayan…rekomendasi dari sahabatku bukan
sembarangan.

Tak dinyana, sebelum sempat diadakan
ta’aruf, dalam salah satu forum di
universitas, Jaka dan Gadis bertemu. Apa
yang terjadi dalam diskusi pagi itu?

Sebuah perdebatan yang panjang. Cara
pandang yang begitu berbeda. Dan
tiba-tiba pagi di UI jadi tak cerah.

Pria yang membosankan dan keras kepala,
pikir sang Gadis

Dasar keras hati! Belum ada perempuan
yang berbicara menentangku seperti gadis
ini! Pikir Jaka.

Lelaki seperti ini yang ingin
diperkenalkan kepadaku? Si Gadis
nyengir. Dia akan kapok denganku dan
segera melupakan langkah lanjut
perkenalan kami…

Si Jaka tak kalah gerah. Perempuan
seperti ini? Aku selalu berfikir bahwa
perempuan adalah kelembutan, kamatangan,
kapatuhan…., pikir Jaka. Tapi ini?

Sepanjang forum kata-kata berseliweran
dalam ruangan itu, terutama dari mulut
Gadis dan Jaka. Forum tersebut bukan tak
penting, sebab mereka dan semua yang
hadir pada saat itu tengah membicarakan
suksesi kepemimpinan mahasiswa di
universitas mereka.

“Menurut saya tidak bisa seperti itu!”

“Mengapa tidak? Menurut saya yang
demikian yang paling mungkin!”

“Tidak bisa! Karena….”

“Bisa! Karena…”
Setelah perundingan yang melelahkan,
akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah
kesepakatan yang didapat dengan catatan.

Ini mungkin pertama dan terakhir kali
kami bertemu dan berbincang, pikir si
Gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin
mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa,
setidaknya aku tak berpura-pura membuat
ia terkesan…

Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah.
Keras kepala, penyakitan pula! Apa harus
diteruskan?

Tak pernah ada perkenalan yang
direncanakan lagi setelah itu.
Kelihatannya mereka memang tidak cocok
dan akan saling melupakan.

Namun tak lama kemudian, pada suatu
pagi, seseorang datang ke tempat Gadis
dan berkata, “Saya sudah istikharah dan
kamu selalu muncul. Bersediakah?”
(lupakan ia penyakitan, ia baik untuk
jadi istriku, Allah menunjukannya!)

Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang
dilihat lelaki muda itu dari diriku? Tak
cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas.
Sangat biasa. Pernah “bertengkar” pada
pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang
dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim…

Gadis pun memilih istikharah sebelum
menjawab.

Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga
muncul! Seperti ada yang membimbing
Gadis berkata “Ya”.

Sebulan kemudian Jaka melamar Gadis. Dan
hanya diperlukan waktu sebulan sebelum
kemudian Jaka dan Gadis menikah! Sungguh
akhir yang tak terduga!

Sebuah pernikahan berlangsung sederhana
namun meriah! Di Jakarta. Banyak sekali
saudara dan sahabat yang datang. Mereka
bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan
ini bisa bertemu?

Pada malam pertama Gadis dan Jaka
berbicara hingga dini hari, salat malam
dan tilawah bersama.

“Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya
penyakit sebanyak itu?” Tanya Jaka pada
istrinya tiba-tiba.

“Apa mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa
ya?” Gadis balik bertanya.

“Jantung, gegar otak, paru-paru,
kelenjar getah bening….”

“Apa?” Gadis bingung.

“Mas baca di biodatamu. Data yang
diberikan shabat kita itu! Tapi mas
sudah ikhlas kok menerima dengan segala
kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu
juga begitu ya….”

Gadis ternganga. Penyakit?

“Mas, aku nggak punya penyakit seperti
itu. Paling-paling cuma maag…” Gadis
nyengir lagi.

Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya
berseri-seri. “Alhamdulillah” (ia ingat,
ia sudah mengambil resiko untuk memilih
gadis keras kepala itu, meski ia
“penyakitan”, meski orang tuanya sangat
keberatan dengan ragam penyakit calon
menantu mereka). Mata Jaka berkaca

Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!

Malam itu si Gadis menyempatkan diri
mengirim pesan via pager pada sahabat
perempuan yang sangat disayanginya: Mbak
saying, datanya ketuker ya? Or salah
tulis soal penyakit? Hebat dia masih
maju terus! Aku tahu dia memang bukan
lelaki biasa!

Bulan bahkan sudah tidur sejak tadi.
Tapi Jaka dan Gadis seperti tak ingin
memejanmkan mata. Mereka tak berhenti
menatap satu sama lain; sebuah pesona
yang lama dinanti, hadir dari lintasan
misteri, menerpa hati dan wajah mereka.
Menyala. Ini cinta? Atau belum juga
sampai pada cinta? Apa pun itu, mereka
percaya, kebaikan menumbuhkan cinta;
keindahan yang tangguh. Dan pacaran
sesudah menikah? Hmm, mungkin itu
kenikmatan berlimpah berikutnya.

Subuh pun hadir membasuh kembali wajah
mereka. Suara adzan terdengar
menggetarkan. Jaka dan Gadis sadar,
telah mereka genggam anugerah tak
terkata itu: bertemu dengan pasangan
jiwa yang dituliskan Illahi.

Kini telah hampir sebelas tahun, cinta
menemukan dan menempuh jalannya. Semoga
abadi!

(Kisah Helvy Tiana Rosa dan Tomi
Satryatomo, 2005)


Responses

  1. HAJAR WIT!!!!
    CEPET,, DARIPADA NTAR LU NANGIS..

    JODOH ITU DI TANGAN TUHAN’
    TAPI AKAN TETEP DI TANGAN TUHAN KALO GAK LU JEMPUT

    MERDEKA!!!!

    *darah itu merah jendral*

    -by chorz and sebul

  2. Subhanallah Wit ceritanya..
    when will it come to me?

  3. Buat sebul dan chorz… aku cuma manasin kalian aza… pan dah pada kerja.
    Buat dzaia-bs, monggoh mas… btw, itu cerita cuma nemu dan dishare aza.. subhanalloh memang.

  4. hmm, cocok dibikin dorama, apalagi diperanin ama maki-chan :))

  5. To Sigit : “-by chorz and sebul”
    Wow, mesranya…..
    Memang jodoh itu ndak jauh2 yak, ini udah ada yang jadi.
    Hajar Git! Hajar Chor!
    Wakakakakakak……….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: